Upacara Tanpa Kelas Akhir, Tetap Menanamkan Disiplin di Setiap Diri

admin 20 Apr 2026 78 Views

Senin pagi, 20 April 2026, suasana halaman sekolah terasa sedikit berbeda. Barisan siswa-siswi kelas X dan XI dari program Broadcasting dan Desain Komunikasi Visual tampak rapi membentuk formasi upacara bendera. Tidak terlihat lagi deretan kelas XII yang biasanya melengkapi barisan. Mereka telah menyelesaikan seluruh rangkaian KBM dan Ujian Akhir, meninggalkan ruang bagi adik kelas untuk mengambil peran lebih besar.

Meski demikian, kekhidmatan tetap terjaga. Upacara bendera yang menjadi rutinitas mingguan ini justru menghadirkan nuansa baru—lebih sederhana, namun sarat makna.

Di tengah persiapan yang terbilang singkat, para petugas upacara yang masih baru menunjukkan kesungguhan mereka. Pak Shohib, selaku petugas keamanan yang turut hadir, mengungkapkan harapannya agar upacara tetap berjalan lancar. “Dengan persiapan yang sangat singkat, semoga upacara dapat berjalan dengan lancar dan khidmat,” ujarnya, menyadari bahwa para petugas bulan ini masih minim pengalaman.

Namun justru di situlah letak pembelajaran sesungguhnya—berani mengambil tanggung jawab, meski belum sepenuhnya siap.

Bertindak sebagai pembina upacara, Bapak Muntaha, S.Kom menyampaikan amanah yang mengaitkan kedisiplinan dengan dunia teknologi. Ia mengibaratkan manusia layaknya sebuah komputer yang terdiri dari hardware, software, dan brainware. Fisik manusia adalah hardware, keterampilan sebagai software, dan pikiran sebagai brainware.

“Komputer bisa terkena virus, begitu juga manusia,” tuturnya. “Virus malas dapat merusak kedisiplinan. Maka kita harus terus meng-update dan meng-upgrade diri agar mampu mengikuti perkembangan zaman.”

Perumpamaan sederhana itu terasa dekat dengan kehidupan siswa, terutama mereka yang akrab dengan dunia digital. Pesan tersebut tidak sekadar menjadi nasihat, tetapi juga refleksi bahwa kedisiplinan adalah sistem yang harus dirawat secara terus-menerus.

Menariknya, upacara kali ini juga mengalami penyesuaian dalam susunannya. Hal ini mengikuti Surat Edaran Bersama dari Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Menteri Agama, dan Menteri Dalam Negeri sebagai penyempurnaan dari SE Nomor 4 Tahun 2026. Perubahan tersebut menekankan bahwa upacara tidak hanya menjadi rutinitas formal, tetapi juga sarana pembentukan karakter.

Lebih dari sekadar berdiri tegak dan menghormat bendera, upacara diharapkan mampu menumbuhkan nilai-nilai kedisiplinan, kerja sama, tanggung jawab, serta memperkuat rasa cinta tanah air.

Pagi itu, di bawah langit yang cerah, upacara bendera bukan hanya sebuah kewajiban mingguan. Ia menjadi ruang belajar yang hidup—tentang tanggung jawab, tentang keberanian mencoba, dan tentang pentingnya menjaga “sistem” dalam diri agar tetap berjalan dengan baik.

Tanpa kehadiran kelas XII, upacara tetap berdiri tegak. Justru dari kekosongan itu, tumbuh kesempatan bagi yang lain untuk belajar melangkah lebih disiplin.

admin

Kontributor aktif di SMK Plus Khoiriyah Hasyim Tebuireng Jombang.